eramuslim -
Hati yang bersih akan melahirkan keikhlasan. Satu upaya batin yang hanya
dengannya Allah akan menerima sebuah amalan. Hati yang bersihlah yang akan
melahirkan pribadi-pribadi yang ikhlas. Pribadi yang hanya mengharapkan ridha
Allah sebagai imbalan atas ibadahnya.
Namun setiap sesuatu yang bersih bisa jadi ternoda, begitu pun juga hati
manusia. Kebersihan atau keikhlasan hati manusia sangat rentan dari noda-noda,
yang karenanya akan mengganggu keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah SWT.
Puasa yang oleh
Allah dikatagorikan sebagai peringkat ketiga obat penyakit hati setelah sholat
dan zakat, adalah obat yang ampuh dalam memerangi kotoran-kotoran hati. Ibarat
kolam, puasa merupakan tempat untuk membersihkan diri dari daki-daki yang
melekat dalam hati manusia, yang akan mengganggu kebersihan hati tadi.
Kalau sebuah
amalan ternodai keikhlasannya, maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian
pendapat ulama yang mengatakan bahwa syarat diterimanya sebuah amal ibadah
adalah bila amal itu dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah semata, dan
yang kedua adalah amalan itu dilakukan berdasarkan syariat yang telah
ditentukan Allah atau pun sunnah dari Rasulullah Muhammad SAW.
Karena pada
dasarnya keduanya merupakan hal yang saling berkaitan erat. Ikhlas merupakan
amalan batin ,sementara syariat atau sunnah Rasulullah adalah amalan zahir.
Sebagaimana
sabda Rasulullah:
Allah tidak
menerima amal, kecuali amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia
semata-mata dan dimaksudkan untuk mencari keridhaan-Nya (HR. Ibnu Majah).
Dari hadits
Rasulullah diatas, memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa ikhlas merupakan
faktor penentu dalam setiap amalan. Agar segala perbuatan yang dilakukan diterima
oleh Allah. Ketika kita berniat untuk melakukan sebuah pekerjan, atau sebuah
amalan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT misalnya, dan
ternyata ketika melakukannya ada motivasi lain yang membangkitkannya, maka apa
yang kita lakukan sebenarnya tidak lagi dalam konteks ikhlas.
Misalnya saja
ketika melakukan puasa. Yang terlintas di pikiran kita adalah dengan puasa itu
kita berharap akan mendapatkan perlindungan dan kekuatan bukan untuk
bertaqqarub kepada Allah, maka puasa itu bisa jadi telah tercampur dengan unsur
syirik.
Begitupun
ketika melakukan sholat ,dan kemudian ternyata apa yang kita lakukan
sesungguhnya karena keinginan mendapatkan pujian dari orang-orang yang melihat
sholat kita, atau keinginan untuk dikatakan sebagai orang yang paling khusuk,
maka ibadah kita telah tercemar dengan kotoran-kotaran hati yang sangat
berbahaya,
Allah befirman:
" ... Dan
apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud untuk riya' dengan sholat di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka
menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (Qs.An Nisaa':142)
Kecuali bila
ketika kita melakukan ibadah puasa untuk bertaqarrub kepada Allah. Dan ternyata
dengan puasa itu didapatkan perlindungan atau kekuatan, atau kesehatan yang semakin
prima, bahkan kemudian dengan kesehatan yang prima itu kemudian bisa menambah
kualitas dan kuantitas ibadah yang lain, maka insya Allah pahala yang didapat
akan menjadi semakin berlipat.
Begitu mudahnya
keikhlasan mengalami kontaminasi dengan penyakit yang lain, maka betul-betul
dibutuhkan tajarrud (kesungguhan) dari pribadi-pribadi muslim untuk senantiasa
mengevaluasi amalan-amalan yang akan, sedang dan telah dilakukannya, agar ujub
atau riya' atau penyakit hati yang lainnya tidak merusak nilai-nilai amalan
kita di hadapan Allah.
Ibnu Sa'ad
menyebutkan dalam kitab Thabaqaat dari Umar Ibn Abdul Azis, bahwa bila beliau
berkutbah di atas mimbar dan kemudian tiba-tiba terlintas dalam pikirannya
keinginan untuk mendapat pujian dari orang lain atas kepandaiannya berbicara,
maka beliau segera menghentikan pidatonya. Begitupun ketika beliau sedang
menulis kitab dan takut akan rasa ujub terhadap dirinya sendiri, maka beliau
segera merobeknya dan berkata, "Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
kejelekkan diriku sendiri."
Demikian
berhati-hatinya ulama semacam Ibnu Sa'ad menjaga keikhlasan hatinya, pantas
menjadi tauladan bagi setiap muslim yang berkeinginan menjadi seorang
mukhlisin.Beliau menyadari betul bahwa penyakit hati smeacam riya' dan ujub akan
mengotori keihlasan dalam beramal.Sehingga ketika perasaan itu muncul dengan
serta merta beliau menghentikannya.
Rasulullah
memberikan tauladan kepada kita berlindung kepada Allah atas penyakit hati itu
dengan doa sebagai berikut:
"Ya Allah,
sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu, sesuatu yang kami
tidak mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari sesuatu yang kami
tidak mengetahuinya."
Do'a ini juga
merupakan sebuah upaya agar Allah SWT senantiasa meluruskan niatan kita, dan
menjauhkan dari penyakit-penyakit hati yang berupa riya' yang juga dikenal
sebagai syirik kecil, juga penyakit hati yang lain semacam ujub, yakni bangga
terhadap diri sendiri.
Sabda
Rasulullah:
Sesungguhnya
sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik yang kecil.
Sahabat bertanya: "apakah syirik yang kecil itu ya Rasulullah?".
Rasulullah menjawab: "Riya" (HR. Ahmad).
Jangan sampai
kita lengah terhadap adanya penyakit-penyakit hati yang senantiasa berlindung
di dalam hati kita, karena adanya penyakit itu bisa menjadikan Allah tidak
menerima amalan-amalan yang telah kita lakukan.
Allah
berfirman:
"Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),seperti orang
yang menafkahkan hartanya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah
dan hari kemudian..." (Qs.2:264)
Insya Allah
dengan menyadari betapa keikhlasan dalam beramal sangat mempengaruhi diterima
tidaknya amalan ibadah kepada Allah. Dan sebaliknya, dengan adanya penyakit
hati yang mengiringi setiap amalan akan merusak dan menghilangkan amalan itu
sendiri di hadapan Allah, maka akan memberi motivasi kepada kita semuanya,
untuk senantiasa berupaya menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang
mukhlish. Allahu a'lam bishowab.







